Kamis, 12 Desember 2013

Bakat Alam Yang (benar benar) Terpendam


Siang itu waktunya pelajaran menyanyi di kelas, satu persatu murid murid kelas 2 SDN 02 Petang Cipete Selatan maju ke depan untuk menyanyikan lagu pilihannya. tibalah giliran Sodik Setiawan, teman saya di bangku sebelah.
"Mau nyanyi apa dik?"
"Dangdut boleh bu?"
"Boleh.." ibu kesi menjawab sambil tertawa
Lalu bernyanyilah sodik lengkap dengan goyangannya pada hari itu, membuat seisi kelas tertawa heboh karena kelakuannya.

Karena jarak rumah yang tak terlalu jauh, saya masih cukup intens bertemu Sodik.
Sodik yang dulu sering merubah meja kelas menjadi gendang, Sodik yang selalu bernyanyi lagu melayu tak ubahnya seperti sekarang. Ia aktif menyanyi dari panggung ke panggung, bahkan beberapa kali saya lihat ia menjadi biduan dari sebuah orkes dorong.
Sodik punya bakat alam luar biasa, suara merdu, pembawaan yang supel membuatnya ia gampang dikenali di kampung saya. tapi bakat tinggal bakat, Sodik hanya menjadi macan panggung setingkat kelurahan. mungkin jika ada kesempatan dan bakatnya sedikit di asah saya yakin ia akan menjadi artis tenar, yah minimal naik level jadi macan panggung tingkat propinsi.

Sodik hanya satu dari sekian banyak anak berbakat di negeri ini, tapi sayang di sayang ahay jebret, bakat mereka ini menjadi bakat yang benar benar terpendam tanpa ada yang menggali.
Gak ada biaya alasan banyaknya, karena setahu saya untuk pendidikan informil ini memang butuh biaya yang tidak sedikit. Kursus tari, kursus musik atau kursus kursus kesenian lainnya dengan harga yang terjangkau masih minim jumlahnya.

Bukan tidak mungkin menjadi hebat dengan bakat alam, tapi untuk yang satu ini bicara garis hidup. Jika saja nasibnya baik, ada saja kesempatan untuk menuju kesana. buat saya untuk urusan satu ini tak hanya sekedar bakat, kemauan dan garis hidup, dukungan finansial dan suport dari pihak pihak terkait pun diperlukan.

Dan ini bukan hanya tentang bakat menyanyi, bakat bakat lain pun banyak yg (benar benar ) terpendam di sekitar kita. tau ah gelap...gue laper.

Selasa, 10 Desember 2013

Tentang Disiplin, Menunggu dan Menahan Lapar si Tukang Foto


Saya memulai semua ini sendiri, berbekal bacaan dari internet, cerita teman teman yang lebih dulu bergelut di dunia foto, dan sedikit nekat. hinggap dari satu liputan ke liputan lain, kadang didampingi senior kadang tidak. tapi di tugas pertama, saya melangkah sendiri dengan gagah sampai di tempat acara dengan hasil .....bengong.

Kalo orang bule bilang learning by doing lah saya itu (eh bener gak tuh bahasa inggrisnya?) , saya sadari progresnya terlihat, dari liputan pertama hingga akhir, hasil foto aksi panggung saya dari yang tadinya jelek jadi lumayan. lumayan untuk dibuang maksudnya :p
Belajar dari sekitar, ngintip settingan kamera fotografer lain sampai berlagak pinter di medan perang :)) berlagak pinter maksudnya pede aja, jangan sampai keliatan banget blo'onnya.

Settingan kamera jelas hal mutlak, tapi dunia foto aksi panggung tak sebatas itu. buat saya foto bagus terjadi karena mood yang bagus pula. jadi klo lagi bete alhasil foto pun akan ikutan bete. ini juga tentang feel, siapapun artisnya, suka atau tidak tekanlah tombol shutter dengan penuh gairah membara. walaweeeey....bahasanya gairah membara dong.

Tidak cukup itu tentunya, hal - hal penting lain mesti diperhatikan ketika menjelang liputan atau ketika menunggu masuk ke media pit.
survey tempat salah satunya, salah duanya adalah disiplin. JANGAN TELAT DEH ..setiap momen dari sebuah pertunjukan itu bisa jadi berita. telat sedikit, ya terima lah hasil apa adanya.
Salah tiganya adalah fotografer mesti kuat nahan lapar, karena biasanya menunggu untuk masuk ke media pit itu memakan waktu yg cukup lama. selain nahan lapar mesti juga nahan amarah :)))) karena tidak jarang setelah sekian lama menunggu, panitia mengumumkan media pit mesti clear dari fotografer pada saat artis on stage. pfffffft.....


~ foto nyatut dari mbah google

Senin, 02 Desember 2013

Mashabi : The One and Only


Mashabi? siapa?
Bahkan jika saya sebut Muhammad Mashabi sebagai nama lengkapnya, rasanya banyak anak- anak zaman sekarang tak mengetahui kiprah dari sang maestro musik melayu dari Indonesia ini.
Tapi mungkin jika saya sebut beberapa karyanya mungkin tak asing lagi didengar, harapan hampa, hilang tak berkesan, renungkanlah atau ratapan anak tiri.

Saya tumbuh besar di tengah-tengah syair mendayu ala Mashabi, seakan kurang afdhol berbenahnya ibu saya di pagi hari tanpa karya karya dari sang maestro yang tenar di tahun 50 an tersebut.
jadi tak aneh rasanya kalau saya hafal beberapa lagu karangan beliau.

Lirknya begitu kuat. sederhana tapi cukup mengena. buaian nada nada melayu memanjakan telinga saya. tapi kadang liriknya pun susah dipahami, kalimat pujangga dan pengaruh sastra kental sekali di beberapa lagu. Romantisme dibuat seindah mungkin dengan kiasan kiasan.

saya memang tak pernah mengalami era seniman besar ini, tapi lagunya abadi. setiap mendengarkan beberapa bait saja, saya seperti ditarik mundur ke sebuah nostalgia di masa lalu.
membuat juga saya berpikir mengapa lagu lagu melayu sekarang tak pernah dibuat sesederhana ini. dengan lirik lirik yang luar biasa, bukan dengan lirik lirik yang nakal lengkap dengan goyangan heboh sang biduan.

ya sih..mungkin masalah selera, tapi buat saya seniman hebat seperti almarhum hanya satu dan satu satunya.

Senin, 04 Maret 2013

Java Jazz Festival 2013

Dari ajang Java Jazz Festival 2013, event tahunan yg diadakan di JIEXPO kemayoran dari tanggal 1 s/d 3 maret 2013.
tahun ini dihadiri artis mancanegara seperti joss stone, basia, lisa stanfield dan craig david.
Beberapa artis lokal pun hadir memeriahkan acara tersebut.














Selasa, 19 Februari 2013

Cerita Si Tukang Foto Pada Milan Glorie 2013



Terminal 2 D Bandara Soekarno Hatta malam itu lebih ramai dari biasanya, ratusan orang dengan seragam merah hitam memadati pintu kedatangan. Puluhan bendera dan panji mereka berkibar disana sini, teriakan kompak dan lantang chant (nyanyian) mereka terdengar sampai lahan parkir. Jelas bukan tanpa sebab, mereka menunggu kedatangan idola idola mereka malam itu. Milan Glorie 2013, event dimana para legenda dari klub Ac Milan kembali mendatangi Indonesia untuk kedua kalinya.
Dan yang membuat beda ditahun ini, squad Milan Glorie dihuni nama - nama yg memang Milanisti impikan untuk menyambangi tanah air, siapa lagi kalau bukan Paolo Maldini dan Andriy Shevchenko.


Jarum jam mendekat ke angka 9, barikade yg dipersiapkan untuk membentengi jalan para legenda menuju bis pun mulai di briefing. dan setelah itu, pagar hidup mulai berjajar dari pintu keluar hingga ke pintu masuk bis. dan saya pun berdiri di area dimana para juru foto berkumpul, space yg memang disiapkan untuk para pencari berita.
Sekian lama menunggu, isyarat dari dalam pun didapat, legenda legenda hidup itu akan segera keluar menuju bis. Barikade makin ketat, chant (nyanyian) para Milanisti semakin kencang. dan sesaat kemudian Shevchenko, Maldini, Costacurta, Franco Baresi dan diikuti official dan pemain lain berjalan keluar diantara barisan barikade.
Suasana makin riuh, liar tak terkendali. Wartawan, Milanisti atau orang lewat saling berebut mendekati sang legenda. tugas saya pun tak maksimal, membidik sekenanya sesuai perasaan.
mau gimana lagi, orang yg selama ini mereka idolakan kini berdiri didepan mereka.
dan barikade pun….jebol.


Teringat meeting selasa sore itu bersama pihak ASD, Sekjen Milanisti Indonesia dan saya tentunya, disebuah kamar hotel tepat di sebelah Gelora Bung Karno Senayan.
Dalam menjaga kenyamanan para Pemain Milan justru ketakutan kita bukan ada pada Milanisti, melainkan pada orang – orang diluar itu. entah fans dadakan, wartawan atau lainnya. Sadar akan hak mereka bahwa legenda Milan milik publik maka panitia pun tak bisa berbuat apa – apa untuk antisipasi hal ini.
dan memang, ‘kegaduhan’ yang terjadi disaat pemain Milan berkunjung ke suatu tempat bukan berasal dari Milanisti, melainkan orang – orang yang berada diluar komando mereka. Tak dipungkiri, Milanisti pun ‘gaduh’, dan kita tidak bisa menahan keinginan mereka mendekati legendanya untuk sekedar foto bareng atau meminta tanda tangan. tapi mereka tertib, mereka tak seheboh yg lain. mereka hebat…mereka bisa menahan diri untuk tetap menjaga kenyamanan pujaannya beraktifitas.
padahal banyak momen dimana mereka begitu dekat dengan para pemain AC Milan. Di sebuah acara musik sebuah stasiun tv, Press con atau executive lunch.
Di acara executive lunch saya sempat berhadapan langsung dengan seorang Sheva, selesai acara beberapa pemain terlihat meninggalkan ruangan untuk menuju bis. saya dan beberapa fotorafer berlari mengikuti mereka. dan Sheva berbelok kearah meja kecil didepan pintu masuk, menurunkan tas untuk mencari sesuatu didalamnya. Saya dan beberapa Fotografer yang sadar akan hal itu langsung mendatangi, berdiri dihadapannya. dan menekan tombol shutter kamera sebanyak mungkin. gotcha…puluhan foto close up seorang Andriy Shevchenko telah terekam di kamera saya.
dan lucunya, dari sekian fotografer yang mengabadikan momen tersebut, tak ada satupun yang mendekat untuk foto bareng hahahaha….mungkin kurang ngefans, atau mungkin mental jurnalisnya kental semua. 

 
Sabtu 9 Februari, Pagi itu cerah secerah hati para Milanisti yang akan segera melihat pemain idolanya berlaga di senayan melawan Indonesian All Star Legend.
Pagi sekali saya memacu kendaraan roda dua menuju Hotel Mandarin Jakarta untuk mengabadikan moment Meet And Greet Maldini dan Sheva. 

to be continue....