Pria setengah baya itu asik membunyikan peluitnya dibawah sinar matahari, sesekali ia berteriak tidak jelas, Pakaian hansip lusuhnya penuh dengan pangkat – pangkat militer.Sepintas gayanya terlihat santai dan tidak perduli walaupun orang disekitarnya menahan senyum melihat tingkah lakunya, bahkan tak sedikit pula yg mencibir dan menjauh. Terkadang tangan kanannya diletakkan didepan jidatnya, mungkin sedang melakukan hormat layaknya prajurit yg ketemu komandannya, tapi buat saya aktifitas itu lebih terlihat seperti menutupi wajah karena panas matahari yg menyengat.
Fenomena ini saya lihat ketika sedang melintas tepat didepan Polres Jakarta Selatan.
Orang Gila…ya begitu kita menyebutnya. Orang yg gangguan jiwanya terganggu ini semakin hari semakin banyak saya saksikan di pinggir – pinggir jalan.
Penderita cacat mental psikotik di DKI Jakarta dari tahun ke tahun memang terus bertambah. Sebagai perbandingan, pada tahun 2001 Dinas Bina Mental dan Kesos DKI Jakarta mencatat ada 2.010 penderita psikotik atau tuna laras di Jakarta. Tahun 2002, jumlah tuna laras menjadi 2.337 orang atau meningkat 327 orang. Namun, karena panti sosial yang ada sudah kelebihan daya tampung, mereka pun tetap telantar dan berkeliaran di sepanjang jalan Ibu Kota. Mereka kerap terlihat tidur di bawah jembatan layang, halte bus, atau pasar dan terminal. Orang gila itu berbaur dengan gembel dan pengemis.
Umumnya mereka2 yg ”beruntung” di tampung di panti – panti sosial, Lalu pertanyaannya sudah cukup efektifkah keberadaan panti2 ini?
Sebagai contoh, hasil pencarian saya di warung bang google adalah sbb.
Penghuni Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 02 Cipayung,
Tidak ada ukuran yang pasti sejauh mana para pasien bisa sembuh dan normal seperti sediakala. Untuk itu, panti tetap menampung mereka hingga seumur hidup jika tidak ada keluarga yang mengambil.
Satu lagi..masalah yg sepertinya dilupakan oleh Pemerintah.
Walaupun mereka tak punya KTP
Walaupun nyanyian Indonesia Raya mereka tak sesuai urutan
Tapi mereka tetap Warga Negara Indonesia yg perlu diperhatikan kesejahteraan hidupnya.
Teringat seloroh kawan saya ”Kalau kesangkut kasus hukum pura-pura Gila aja”
Hehehehe..bener juga ya..karena mereka kan bebas dari hukum, baik hukum Positif maupun Hukum syariat.
Ternyata ada untungnya juga jadi Orang Gila.
Ada yg berminat?