Selasa, 19 Februari 2013

Cerita Si Tukang Foto Pada Milan Glorie 2013



Terminal 2 D Bandara Soekarno Hatta malam itu lebih ramai dari biasanya, ratusan orang dengan seragam merah hitam memadati pintu kedatangan. Puluhan bendera dan panji mereka berkibar disana sini, teriakan kompak dan lantang chant (nyanyian) mereka terdengar sampai lahan parkir. Jelas bukan tanpa sebab, mereka menunggu kedatangan idola idola mereka malam itu. Milan Glorie 2013, event dimana para legenda dari klub Ac Milan kembali mendatangi Indonesia untuk kedua kalinya.
Dan yang membuat beda ditahun ini, squad Milan Glorie dihuni nama - nama yg memang Milanisti impikan untuk menyambangi tanah air, siapa lagi kalau bukan Paolo Maldini dan Andriy Shevchenko.


Jarum jam mendekat ke angka 9, barikade yg dipersiapkan untuk membentengi jalan para legenda menuju bis pun mulai di briefing. dan setelah itu, pagar hidup mulai berjajar dari pintu keluar hingga ke pintu masuk bis. dan saya pun berdiri di area dimana para juru foto berkumpul, space yg memang disiapkan untuk para pencari berita.
Sekian lama menunggu, isyarat dari dalam pun didapat, legenda legenda hidup itu akan segera keluar menuju bis. Barikade makin ketat, chant (nyanyian) para Milanisti semakin kencang. dan sesaat kemudian Shevchenko, Maldini, Costacurta, Franco Baresi dan diikuti official dan pemain lain berjalan keluar diantara barisan barikade.
Suasana makin riuh, liar tak terkendali. Wartawan, Milanisti atau orang lewat saling berebut mendekati sang legenda. tugas saya pun tak maksimal, membidik sekenanya sesuai perasaan.
mau gimana lagi, orang yg selama ini mereka idolakan kini berdiri didepan mereka.
dan barikade pun….jebol.


Teringat meeting selasa sore itu bersama pihak ASD, Sekjen Milanisti Indonesia dan saya tentunya, disebuah kamar hotel tepat di sebelah Gelora Bung Karno Senayan.
Dalam menjaga kenyamanan para Pemain Milan justru ketakutan kita bukan ada pada Milanisti, melainkan pada orang – orang diluar itu. entah fans dadakan, wartawan atau lainnya. Sadar akan hak mereka bahwa legenda Milan milik publik maka panitia pun tak bisa berbuat apa – apa untuk antisipasi hal ini.
dan memang, ‘kegaduhan’ yang terjadi disaat pemain Milan berkunjung ke suatu tempat bukan berasal dari Milanisti, melainkan orang – orang yang berada diluar komando mereka. Tak dipungkiri, Milanisti pun ‘gaduh’, dan kita tidak bisa menahan keinginan mereka mendekati legendanya untuk sekedar foto bareng atau meminta tanda tangan. tapi mereka tertib, mereka tak seheboh yg lain. mereka hebat…mereka bisa menahan diri untuk tetap menjaga kenyamanan pujaannya beraktifitas.
padahal banyak momen dimana mereka begitu dekat dengan para pemain AC Milan. Di sebuah acara musik sebuah stasiun tv, Press con atau executive lunch.
Di acara executive lunch saya sempat berhadapan langsung dengan seorang Sheva, selesai acara beberapa pemain terlihat meninggalkan ruangan untuk menuju bis. saya dan beberapa fotorafer berlari mengikuti mereka. dan Sheva berbelok kearah meja kecil didepan pintu masuk, menurunkan tas untuk mencari sesuatu didalamnya. Saya dan beberapa Fotografer yang sadar akan hal itu langsung mendatangi, berdiri dihadapannya. dan menekan tombol shutter kamera sebanyak mungkin. gotcha…puluhan foto close up seorang Andriy Shevchenko telah terekam di kamera saya.
dan lucunya, dari sekian fotografer yang mengabadikan momen tersebut, tak ada satupun yang mendekat untuk foto bareng hahahaha….mungkin kurang ngefans, atau mungkin mental jurnalisnya kental semua. 

 
Sabtu 9 Februari, Pagi itu cerah secerah hati para Milanisti yang akan segera melihat pemain idolanya berlaga di senayan melawan Indonesian All Star Legend.
Pagi sekali saya memacu kendaraan roda dua menuju Hotel Mandarin Jakarta untuk mengabadikan moment Meet And Greet Maldini dan Sheva. 

to be continue....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar