Senin, 05 Mei 2008

Begitu Besar Pengorbananmu (sebuah Kronologis)


Photo diatas diambil candid oleh kakak saya .

Diambil sesaat setelah operasi Caesar selesai dilakukan.

 

Sambil duduk termenung disampingnya, pikiran ini jauh melayang teringat Ibu yg melahirkan saya dulu.

Begitu besar pengorbananmu…antara Hidup dan Mati sangat tipis sekali jaraknya

Ah pantas saja kalau Surga ada dibawah telapak kakimu.

 

Setelah Dokter menyarankan untuk Operasi Caesar, Istri saya masih tetap kukuh untuk melahirkan normal.

 

Air ketuban sudah kering, pecah keluar bersama banyaknya darah.

Placenta menutupi jalan lahir

Posisi bayi belum berada di mulut rahim.

Tidak ada kontraksi sedikitpun.

Alasan medis itulah yg memutuskan Dokter menyarankan untuk melahirkan caesar.

 

”Pikirkan baik baik keselamatan ibu dan bayi bapak” begitu ujar Dr.Prima Progestian menyarankan saya.

Akhirnya surat pernyataan Untuk melakukan Operasi pun saya tanda tangani.

Sesaat setelah itu saya hampiri istri dan berbisik di telinganya ”Sabar...”


Saya lihat jelas ketakutan di matanya, karena seumur hidupnya baru kali inilah ia menjalani Operasi besar.

Di pinggir tempat tidur saya coba untuk menghibur, bercanda dan selalu mencoba untuk tersenyum.

Padahal, kalau saat itu kepala saya dibelah dan dada saya dirobek, Otak ini seperti kram, Jantung ini seperti habis lari 1000 Km. Stress saya bahkan melebihi Istri saya yg akan menjalankan Operasi. Tapi di depannya lengkungan indah dibibir saya tetap saya pertahankan sampai depan Pintu kamar Operasi.

 

15 Menit kemudian bayi saya sudah berhasil dikeluarkan.

Allohuakbar..Subhanalloh..Sungguh Indah ciptaanMu Ya Kariin...

Bayi saya lahir dengan sehat dan selamat jam 20.45 bersamaan dengan lebatnya hujan diluar Rumah Sakit.

 

Seperempat jam lebih saya menunggu Istri saya keluar dari kamar operasi sampai akhirnya suster mempersilahkan saya masuk untuk melihat kondisinya.

 

Melihat wajahnya, kembali teringat ibu yg melahirkan saya.

Alloh..Mulia sekali makhluk engkau yg bernama perempuan ini.

 

”Baby gmn?sehat?” Cuma itu yg terlontar dari mulut istri saya ketika sadar.

”Baby sehat” ujarku , selanjutnya ia terbenam kembali dibawah pengaruh obat bius, tak perduli badannya yg lemas tak berdaya di atas tempat tidur, tak perduli selang infus melingkar di tangan kanannya.

 

Dan...

Dunia pun semakin terasa Indah sejak malam itu.