Layaknya seperti rumah kontrakan biasanya, berdiri sejajar dan dibatasi tembok. Ada 7 pintu termasuk tempat saya tinggal. Bagunan yg tampil sederhana, berkaca nako dan berteralis besi.
Pintu dan kusen jendela berwarna seragam dikombinasikan dgn warna krem yg melekat ditembok. Pintu besi di ujung gang yg digembok setelah jam 12 malam.
Ya kira-kira begitulah sedikit gambaran tentang rumah-rumah kontrakan milik mertua saya.
Secara tidak langsung, banyak pelajaran menarik disana,tentang kesederhanaan, tentang kerja keras, tentang rumah tangga,tentang berbagi dan lain – lain.
Lain lubuk lain belalalang..itulah mungkin pelajaran yg bisa saya ambil dari sana.
Di pintu pertama, tinggal sepasang suami istri dan 2 anaknya, keluarga paling pendiam menurut saya, anaknya yg paling besar baru saja duduk di bangku SMA, sedangkan anaknya yg kecil entah kelas berapa di sekolah dasar, ayahnya seorang pembantu rumah tangga. Mudah2an orangnya berkenan kalo saya sebut duplikatnya mc gyver, bukan krn wajahnya yg sama, melainkan kerajinan tangannya mengolah ‘benda-benda’ rusak..bim salabim jadi apa..prok prok prok..beberapa kursi tua milik mertua yg sudah usang dan rusak berhasil disulapnya menjadi tempat duduk yg sedikit nyaman dari kondisi sebelumnya. Akitifitasnya selain itu adalah duduk di depan rumahnya selepas maghrib, menghisap beberapa batang rokok sampai dipanggil masuk oleh istrinya...selalu begitu..ah saya suka sekali cuaca didalam rumahnya, jarang saya dengar mrk bicara keras selain musik hiphop yg distel anak nya dikala libur.
Tepat disebelahnya tinggal seorang montir bersama istri dan satu anaknya yg baru berumur satu tahun lebih, entah lebih berapa. Silahkan ambil kembaliannya...
Kontra sekali dgn tetangga sebelahnya, keluarga ini sering bikin konser dadakan yg membuat sepanjang isi kontrakan bangun ditengah malam dgn muka kesal.
Bak buk..plak..aaarrgh..begitulah kira-kira, bukan sinetron apalagi drama korea, istrinya yg tinggi kurus sering jadi sparing partner suaminya yg mungkin gagal menjadi pemain bulu tangkis.
Bosan melihat situasi tersebut akhirnya Fatwa MUI (Mertua Urusan Internal) keluar juga lewat juru bicaranya (baca :saya –red). Jika ada keributan lagi, maka kontrak akan berakhir dan dijual ke klub lain..loh..
Gak abis pikir...istri dinikahi hanya dijadikan sansak suaminya. Bukan bermaksud mencampuri urusan rumah tangga orang lain, saya selaku jubir mertua menggunakan hak sebagi owner untuk mencegah hal- hal yg tidak diinginkan, diluar itu, masa bodo lah mrk ada masalah apa. Selain itu, fatwa juga menyuarakan aspirasi dari tetangga2 sebelahnya yg selalu terganggu mimpi indahnya dimalam hari.
Lain lagi disebelahnya, Namanya panjang, tapi saya biasa memanggilnya Pak Made, seorang Polisi muda dgn satu orang anak yg bulan ini berulang tahun yg pertama. Istrinya yg lebih sering bersosialisasi dgn sekitar, mungkin krn kesibukan Pak Made jarang terlihat, kalaupun diluar jam dinas, biasanya menghabiskan waktu didalam rumah untuk mengukur panjang tempat tidur a.K.a molor.
Pak Made pendiam, senyumnya mahal, tawa lepasnya hanya bisa saya dengar dari luar rumahnya, tapi saya tau beliau orang baik.
Karakternya yg seperti itu membuat saya enggan memulai pembicaraan dgn Pak Made yg juga seorang mualaf itu.
Nah sekarang kita sampai di pintu keempat dari 3 pintu yg tersisa, sepasang suami istri dgn satu orang anak yg bernama messi, dari nama anaknya pasti anda pikir kalau bapaknya adalah penggemar klub Barcelona....salah...lelaki berambut ikal yg juga pemilik bengkel cat mobil itu adalah interisti sejati..hhhm salah asuhan rupanya. Penggila bola yg juga perokok berat.
Ditahun lalu, beberapa bulan sempat ia habiskan didalam penjara krn satu masalah. Saya belajar kesabaran dan kemandirian dari istrinya pada saat itu. Keluarga ini belum tidur jika jarum jam belum beranjak melewati angka sepuluh atau sebelas di malam hari, sedikit terganggu sih sama suara canda mereka, tapi gak apa lah, masih dalam batas kewajaran.
Oh iya..Mas Anto..begitu saya memanggilnya, beliau juga seorang novelis, novel perdananya sudah keluar dgn judul SEGARA, sebuah novel bersampul merah dgn gambar seram itu pun pernah juga diberikan ke saya, sampai sekarang saya gak tau ceritanya seperti apa. Rangkuman cerita dihalaman belakang saya baca sekedar antisipasi jika si penulis meminta kripik dan singkong.
Saya suka baca..tapi tidak novel bergenre itu, cerita fiktif tentang sesosok mahkluk aneh yg hidup di zaman brekele ketika bumi masih berumur muda. Tapi saya suka imajinasinya.
Finally..sekarang cerita ada diurutan pintu rumah saya, ah..hanya sebuah keluarga kecil yg saling mencintai, saya punya seribu warna indah didalam sini. Cukup itu saja, jangan sampai tulisan ini malah jadi ajang narsisme tampanian gantengienza (virus narsis baru).
Disebelah kanan rumah saya, hidup beberapa ekor lagi eh beberapa manusia lagi dgn cerita lain. Suami istri yg dikaruniai seorang anak bernama raul (kali ini bapaknya memang penggemar real madrid)..eh eh baru sadar banyak pemain bola disini, saya juga gila bola, terlebih AC MILAN,tapi gak kebayang rasanya kalo harus menamai anak saya george weah atau kevin prince boateng..bah..
Orang tua Raul adalah seorang pedagang, tepatnya pecel ayam,bebek dan lele. Usahanya maju krn kerja kerasnya. Warungnya selalu ramai didatangi pengunjung setiap malam tiap kali saya kebetulan melintas didepannya. Iri rasanya punya jiwa ulet seperti mereka.
Ayahnya raul memiliki beberapa tattoo besar dan seram ditubuhnya, tapi rasanya itu tak merepresentasikan sifat kesehariannya, gak banyak omong..serius (kalo lagi nyabutin bulu ayam) dan penurut sama istri dan mertuanya hahahaha...satu hal yg sedikit mengganggu dari keluarga ini adalah teriakan anaknya di tengah malam dgn tiba-tiba ketika sedang tidur, katanya sih si raul peka sama kehadiran makhluk halus...hiiiy...udah ah.
Dont judge a ojekers by its cover..alagh..penempatan kata ojekers dikalimat awal bukan tanpa alasan, penghuni terakhir...petiiiiiiiiiiiiir kali...
penghuni rumah terakhir dari sepanjang kontrakan mertua saya adalah seorang tukang ojek di bilangan blok – m.
tinggal bersama seorang istri dan 3 orang anaknya. Pernah suatu hari saya iseng..mengestimasi pengeluarannya tiap bulan. DAMN..besar juga ..uang sewa rumah, kredit motor barunya, bayaran 3 anaknya yg sekolah ..etc..
mungkin inilah gambaran akan ketetapan-NYA..rizki sudah diatur..asal berusaha Insya Alloh berkah dan cukup.
Anak- anak mereka tergolong anak yg cerdas, anak keduanya baru saja lulus SD dgn NEM (masih NEM gak sih namanya) what ever lah..dgn NEM tertinggi disekolahnya. Anak pertamanya langsung bekerja selepas lulus dari bangku SMK..entahlah..mungkin belum ada biaya untuk melanjutkan kuliah. Nah anaknya yg paling kecil punya suara mirip anak kucing kejepit pintu..bayangkan kalo ia sudah berteriak..hhhmmmfft...inilah pengganggu tidur siang saya di akhir minggu.
Hmmm mungkin inilah alasan mengapa Alloh menciptakan hambanya dgn berbagai macam karakter, agar kita bisa belajar sendiri dari sekitar, agar kita bersyukur, agar kita tengok kanan kiri untuk bersosialisasi...bener juga kata komeng dan adul..kalo jalan liat kanan kiri..siapa tau ketemu kita di wara wiri,..weh..weh..weh... :P
Kalo kata Sheila on 7 mah ..Lihat..Dengar.. Rasakan...hehehe mungkin dengan begitu kita akan temukan jawaban...semoga..